Hal-hal berbau retro sepertinya kembali menjadi tren belakangan ini. Termasuk di bidang fotografi. Anda salah satu penggemar hal-hal retro? Atau sudah bosan dengan kamera-kamera modern yang konvensional? Perkenalkan Lomography, alternatif lain berfotografi-ria.
Fotografi dengan media toy-camera ini mulai booming di Indonesia sekitar tahun 2005 dan makin meluas hingga sekarang. Walau terbilang cukup baru dikenal, teknologi kamera berbahan dasar plastik ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 1960-an di Rusia. Namun baru berkembang pesat sejak dua mahasiswa asal Wina, Austria pada medio 1990 mencoba memasarkan kembali kamera-kamera lomo yang sempat surut dari peredaran.
Hasil foto yang unik dan berbeda adalah daya tarik utama lomography. Berbeda dengan hasil foto digital yang serba bersih dan tajam, karasteristik foto toy-camera yang warnanya cenderung oversaturated, berbayang, kadang bertumpuk, bahkan bocor cahaya, justru membuatnya terlihat sangat artistik dan orisinil. Hasil foto seperti ini belakangan diadopsi oleh Instagram, aplikasi fotografi berbasis produk Apple.
Contoh-contoh keindahan berbeda yang ditawarkan kamera lomo dapat Anda lihat di bawah ini:
Hasil foto yang unik dan berbeda adalah daya tarik utama lomography. Berbeda dengan hasil foto digital yang serba bersih dan tajam, karasteristik foto toy-camera yang warnanya cenderung oversaturated, berbayang, kadang bertumpuk, bahkan bocor cahaya, justru membuatnya terlihat sangat artistik dan orisinil. Hasil foto seperti ini belakangan diadopsi oleh Instagram, aplikasi fotografi berbasis produk Apple.
Contoh-contoh keindahan berbeda yang ditawarkan kamera lomo dapat Anda lihat di bawah ini:
Menarik, bukan? Selain menjanjikan pengalaman seru dengan hasil-hasil foto yang tak terduga, kelebihan lain kamera lomo adalah harganya yang relatif terjangkau. Range harga kamera lomo berkisar antara Rp200.000–Rp5juta




No comments:
Post a Comment